Selasa, 10 Januari 2023

Jodoh Sambung #part 2

 Tiara, .... menggamit kenangan zaman persekolahan

Tiara, .... kumemimpi kita bersanding atas kayangan

Sea...kan bisa kusentuh peristiwa semalam

 Di malam pesta, engkau bisikkan kata azimat di telinga 

Kita, ... terpaksa berpisah untuk mencari arah

Kita, ... dipukul ombak hidup yang nyata

Engkau, ... jauh meniti puncak menara gading

Yang menjanjikan hidup sempurna

Tapi aku hanya menunduk ke bumi, hidup tertekan

Jika,   kau bertemu aku begini

Berlumpur tubuh dan keringat membasah bumi

Di penjara, terkurung terhukum

Hanya berteman sepi

Bisakah, kau menghargai

Cintaku yang suci, ini....

Oh, Tiara.... pedihnya, dapatkah kau mearsakan?

Oh, tiara.... pedihnya, dapatkah kau merasakannya.


Pak Amin yang sedang larut mendengar lagu tiara tidak melihat aku datang, bahkan tidak mendengar salam yang aku ucapkan dengan keras.

"Wah, ...wah! rupanya lagi asyik nih!", sapaku sambil mendekat dan ambil posisi duduk di kursi depan beliau.

Dengan sikap gugup dan kaget, pak amin mematikan lagu yang sedang dinikmatinya dari hp. "Eh, kamu. Ada apa?" sapanya.

"Kalau lagi asyik, sampai nggak dengar ada orang mengucap salam. Assalamualaikum!", kataku mengulangi salam yang tadi belum terjawab.

"Waalikumussalam, warahmatullahi wabarokatuh!", jawab Pak Amin. "Tumben ke sini, ada apa?", tanya Pak Amin sedikit curiga.

"Kok tanyanya gitu, seperti curiga?", jawabku. " Gini, aku mau ketemu sama Dian, katanya pulang?", tanyaku.

Dian itu anak Pak Amin yang kuliah bareng sama anakku. Cuma beda jurusan; kalau Dian mengambil jurusan ekonomi, anakku Zaza, mengambil jurusan psikologi. Nah, karena mendengar Dian pulang, aku mau tanya-tanya kabar anakku dan mau nitip sesuatu.

"Lagi ke luar sama temannya," jawab Pak Amin.

"Temannya cowok apa cewek?"

"Teman cewek, lah. Mana Dian punya teman cowok?" timpal Pak Amin.

"Kali aja, kan Dian sudah besar; sudah dewasa, sudah semester tiga lagi. Sudah boleh dong jika dian punya teman cowok?" ledek aku memancing komentar Pak Amin sperti apa. "Oh, ya. Bagaimana kabarnya Mbak Imut? Mutiara maksudnya!" tanyaku keppo.

"Loh, ...loh...kok ke situ pertanyaannya? tadi tanya Dian, kok ... larinya ke Mutiara?" sergah Pak Amin dengan nada kurang suka kalau pembicaraan dialihkan ke Mbah Mutiara.

Tiba-tiba ada suara motor datang, dan ucapan salam menyeruak ke ruang tamu. Otomatis pembicaraan antara aku dan Pak Amin tentang Mutiara terhenti karena Dian telah pulang.

Bersambung ke part 3

Sabtu, 07 Januari 2023

Jodoh Sambung #part 1

 Tiara senyum-senyum sendiri. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Tapi yang jelas setelah aku kabari kalau Pak Amin naksir dan titip salam untuknya, tampak sedikit berbeda tingkahnya. Suka senyum sendiri dan terlihat sering diam melamun.Dugaanku, ada rasa lain yang tak biasa, yang menggannggu benak pikirannya. Mudah-mudahan dugaanku salah. Sebab Tiara pernah mengungkapkan padaku kalau ia tidak yakin; apakah ada jodoh sambung. 

"Ah, kaya di sinetron aja, nggak,...nggak,...!", sanggah Tiara ketika aku ajak ngomong perihal niat baik Pak Amin.

Oh, ya; Pak Amin itu Bos besar di kampungku. Beliau ini duda paruh baya yang ditinggal mati istrinya karena sakit covid-19. Kami cukup akrab karena masih ada garis sambung keluarga besar. Ketika ada acara kumpul-kumpul keluarga besar kami, beliau sering menjadi bulan-bulanan saudara yang lain karena belum cari pasangan lagi. Ketika yang lain mencoba memberi motivasi agar segera mencari pasangan lagi, ujung-ujungnya pasti meminta tolong untuk mencarikan.

Karena sikap beliau yang minta dicarikan pasangan lagi, aku pun berani untuk mencoba memberi tahu perihal temanku kerja yang juga janda ditinggal mati suaminya. Siapa tahu berjodoh.

                                                                ***

Pukul 06.30 aku sampai di tempat kerja. Pagi itu perjalanan cukup lancar, jadi agak gasik sampai di kantor. Tiara sudah ada di kantor ketika aku masuk. Ia memang selalu hadir gasik. Mungkin memang sudah melekat sifat rajin dan disiplin pada dirinya sehingga selalu paling nomor satu hadir di kantor. 

"Hai, Tiara!" sapaku memulai pembicaraan. "Gemana, apakah sudah ada perkembangan? tanyaku lepas seolah tak terkontrol. Aku berani tanya seperti itu karena melihat situasi ruang kantor tidak ada siapa-siapa kecuali kami berdua. Jadi, tidak bermasalah menurutku. 

"Perkembangan apanya?", Tiara balik bertanya.

"Jodoh sambung,.... apakah Pak Amin sudah menghubungi?", sambungku.

"Apakah mungkin, ada jodoh sambung?" bukannya menjawab pertanyaanku malah Tiara balik bertanya kepadaku.

" Loh, mengapa nggak mungkin? kalau Allah menakdirkan, semua bisa jadi", begitu kataku ketika mencoba berdebat tentang jodoh sambung.

"Nggak,...nggak! Saya nggak percaya ada jodoh sambung", kata Tiara dengan nada sedikit meninggi disertai tawa manja. 

Tidak marah sih, dari nada bicaranya aku yakin betul tidak ada rasa marah terhadapku terkait dengan pertanyaa-pertanyaanku. Makanya aku berani untuk mencoba mengintrogasi Tiara dan seolah sedikit sok keppo. Namun sayangnya teman-teman yang lain sudah banyak yang datang, sehingga pembicaraan yang mirip-mirip intrograsi itu harus berakhir. 

Sejak itu saya belum mencoba lagi membuka pembicaraan tentang masalah Pak Amin, takut-takut kena efek buruk dalam berteman. Namun saya menduga jika komunikasi antara Pak Amin dan Tiara bisa saja berlanjut tanpa sepengetahuanku. Bisa jadi sih, kan sekarang sudah ada alat komunikasi privat melalui hp. Jika itu terjadi, bagiku ikut bahagia sih. Artinya sahabatku bisa bahagia, hidupnya bisa berwarna lagi karena memperoleh jodoh sambung.

                                                            ****                                                        bersambung #part 2

Kamis, 27 Mei 2021

Menemukan Kembaki Mutiara yang Hilang

 Mutiara, merupakan barang bernilai tinggi. Tergolong barang berharga karena kandungan nilainya. Dari pemahaman istilah tersebut, kemudian ada istilah baru "kata-kata mutiara" yang sekarang banyak disebut dengan istilah "quote". Tentu saja maksudnya adalah untaian kata yang sarat akan makna, bernilai tinggi, dan mengandung petuah. 

Hari ini saya menemukan kembali tulisan berharga di Blog saya ini. Rasanya bahagia sekali karena sudah lama kehilangan jejak. Tertulis terakhir tahun 2016; padahal saat ini sudah tahun 2021. Wow, ... bagaikan menemukan kembali mutiara yang hilang.

Kamis, 04 Februari 2021

Materi IPS SMP Kelas VIII Semester 2 INTERAKSI PELAKU EKONOMI DALAM SISTEM EKONOMI DUA SEKTOR, TIGA SEKTOR

                  

 Assalamualaikum, Wr. Wb.

Hai, belajar lagi ya? Setelah libur kemarin, kita belajar lagi dan harus lebih semangat.

Belajar hari ini, Senin tgl 25 Januari, memperdalam tentang HUBUNGAN PELAKU EKONOMI.

He...he..., tapi jangan lupa 3M ya! Apa hayo?

 

Nah, mari kita ingat kembali: RTK, RTP, RTN. Tidak bingung kan? Oke, mari kita ingat kembali;

RTK= Rumah Tangga Konsumen. Semua orang, termasuk diri kita masuk dalam kelompok ini.

RTP= Rumah Tangga Produksi. Maksudnya ini rumah tangganya perusahaan. Apakah kalian menjadi anggota RTP? Jawabnya saat ini belum. Besuk jika  bekerja di perusahaan, kalian menjadi anggota RTP.

RTN= Rumah Tangga Negara. Pada buku LKS tertulis RTG. Maksudnya sama. RTG singkatan dari rumah tangga govermen (negara). Apakah kalian masuk dalam kelompok RTN/RTG? Ya, jawabnya belum. Besuk kalian akan masuk menjadi anggota RTN/RTG kalau kalian masuk kerja di lingkungan pemerintahan. Misalnya jadi tentara, jadi pegawai negeri, jadi polisi, jadi bupati, dan sebagainya.

 

Bagaimana? Sudah paham?

Kalau sudah paham, mari kita masuk pada pembahasan Hubungan/Interaksi Pelaku Ekonomi.

1. Hubungan pelaku ekonomi dua sektor.

Ayo perhatikan anak panahnya. Rumah tangga produsen (perusahaan) memperoleh tenaga kerja dari mana? Jawabnya (perhatikan garis luar bawah) Ya. Berasal dari Rumah tangga konsumen (keluarga). Ada anggota keluarga yang melamar pekerjaan (masuk pasar faktor produksi) dan di terima sebagai karyawan perusahaan. Akibatnya, orang tersebut memperoleh uang atau gaji dari perusahaan (perhatikan garis dalam bawah).






lebih jelasnya bisa mengamati diagaram yang ada di bawah ini ya!




Bagaimana? Sudah paham? Oke, kita lanjutkan, ke sistem ekonomi tiga sektor.

2. Hubungan pelaku ekonomi tiga sektor.

                            

Amati dengan baik diagramnya ya!

Untuk penjelasan transaksi dan peredaran uang-nya, perhatikan diagram berikut yang lebih lengkap.


Jangan lupa baca juga buku paket halaman 152, juga buku LKS halaman 16.

Catatan/Note! Gambar atau diagram pada buku LKS halaman 15 tentang pelaku ekonomi dua sektor itu salah ya. Anggap saja gambar tersebut tidak ada. Yang benar gambar untuk pelaku ekonomi dua sektor yang ada pada buku paket halaman 152.


Sabtu, 29 Agustus 2020

Hukuman Menumbuhkan Harapan

Selandia Baru bergetar, gempar. Ada penembakan brutal dalam kegiatan shalat jumat yang dilakukan oleh masyarakat muslim di daerah Crishcurch. Sebelumnya kehidupan masyarakat aman damai dan berjalan dengan harmonis. semua bekerja dalam kesibukan masing-masing. Tetapi siang itu di hari jumat awal tahun 2019 terjadi insiden yang menohok kedamaian New Zeland. Sontak simpati dunia tertuju pada negara itu.

Perdana Menteri pun bersimpati dengan mengenakan kerudung layaknya muslimah menyampaikan pidato simpatinya. Orang-orang non muslimpun bersatu menjaga saudaranya muslim yang melaksanakan shalat jumat pada minggu berikutnya. Dunia mengutuk pelaku teroris tersebut dan sekaligus bersimpati kepada korban.

Hari ini, 29 Agustus 2020, pengadilan yang menangani kasus crisis kemanusiaan itu menjatuhkan hukuman seumur hidup bagi pelakunya. Hukuman seumur hidup itu ditegaskan dengan tidak ada pemberian keringanan apapun. Artinya ganjaran tersebut sangat berat bagi pelaku teroris anti kemanusiaan yang diberikan oleh pengadilan New Zeland.

Keputusan itu ternyata direspon oleh masyarakat dengan suka cita. Masyarakat seolah merasa lega bahwa kehidupan selanjutnya akan aman dari orang-orang yang mempunyai jiwa anti kemanusiaan. Itulah efek dari hukum; memberi kedamaian, melindungi, dan menjaga harapan masyarakat. Bagaimana di negeri kita?

Sabtu, 15 Agustus 2020

HINDARI PERANGAI KERAS DAN KASAR

 بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ

Siapa yang suka kelembutan? Saya kira semua orang menyukainya. Bagaimanakah perasaan Anda jika ada orang yang bersikap kasar kepada Anda? Nah, kalau perasaan Anda kesal saat menerima perlakuan kasar, sebaiknya Anda jangan bertindak kasar. Perilaku Anda sebaiknya yang lembut kepada siapapun. Jangan keras kepada anak-anak, walaupun itu anak Anda sendiri. Apalagi jika anak orang lain.
Nah, perhatikan uraian berikut untuk menjadi catatan kita bersama bagaimana sebaiknya kita bersikap dalam kehidupan sehari-hari. Baca sampai tuntas ya!?
عن ابي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الحياء من الايمان والايمان في الجنة والبذاء من الجفاء والجفاء في النار
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Malu itu dari iman dan iman ada di surga, sedangkan perkataan keji itu dari perangai yang kasar dan perangai yang kasar ada di neraka." (Ahmad, No. 10108)
Islam mengajarkan kita untuk berakhlak mulia, berperangai lembut dan santun serta menjauhkan diri dari akhlak buruk, perangai keras dan kasar.
Termasuk dari perangai keras adalah mendengar adzan dan tidak menjawabnya, masuk masjid dan duduk di belakang meninggalkan shaf pertama, bersikap kasar kepada orang tua, belanja banyak di mall tanpa banyak pikir namun belanja ke pedagang kecil banyak menawar, dll.
Allah mewajibkan kita untuk peka dengan keadaan orang lain, berhati santun, dan berlemah lembut, Allah berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu".
(QS. Ali-Imran : 159)
"Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, "Termasuk dari mengagungkan Allah adalah memuliakan seorang muslim yang telah beruban." (Abu Dawud, No. 4203)
"Sesungguhnya orang yang paling dimurkai Allah adalah orang paling keras dan gemar dalam berbantah-bantahan".
(Bukhari, No. 2277).
"Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari, jika bertemu saling menjauhkan, dan yang paling baik di antara keduanya adalah yang memulai salam." (Bukhari, No. 5768)
"Orang mukmin itu bercirikan kasih sayang, dan tidak ada kebaikan pada orang yang tidak menyayangi dan tidak juga disayangi." (Ahmad, No. 21773)

Sumber: https://www.facebook.com/papi.ulifira dengan perubahan seperlunya.

Kamis, 02 Juli 2020

4 TAHUN PPDB ZONASI, TERNYATA POLA PIKIR ORANG TUA SISWA BELUM BERUBAH

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini, 2020 masih saja terjadi keributan. Biasa, protes. Merasa tidak puas terhadap layanan yang diberikan oleh panitia sampai tidak mau menerima keputusan hasil siswa yang diterima dan yang tidak diterima.
Orang tua siswa merasa kalau anaknya lebih pinter tetapi kok tidak bisa masuk. Ada apa? begitu protesnya dengan nada yang kurang enak di telinga. Ada juga yang protes terkait dengan zonasi sekolah. Orang tua siswa tersebut merasa kalau anaknya tinggal di zonasi yang ditentukan tetapi mengapa tidak diterima. Mengapa, mengapa? Terus harus sekolah ke mana? Begitu protesnya.
Ujung-ujungnya menuduh kalau panitia PPDB tidak adil, ada main, dan tidak fair. Tentu saja yang menjadi panitia merasa sakit, mendengar tuduhan kejam seperti itu. Masalahnya panitia sudah memberi layanan yang terbaik walaupun harus ribet memakai masker dan harus sabar yang luar dari biasanya. Masalahnya kondisi pandemi covid-19 memang harus mematuhi protokol kesehatan: cuci tangan, jaga jarak dan tidak boleh berdesakan; sehingga pelayanan pendaftaran siswa baru cukup memakan waktu lumayan lama.
Kalau dianalisis, terkait dengan protes-protes orang tua siswa dalam PPDB faktor penyebab utama adalah "pola pikir orang tua siswa yang masih belum berubah". Orang tua siswa masih saja berpikir adanya sekolah favorit. Mereka beranggapan kalau anaknya pinter, nilainya tinggi pasti bisa diterima di sekolah tersebut. Padahal aturan main sudah berubah empat tahun yang lalu. Pemerintah sudah merubah sistem penerimaan siswa baru dengan sistem zonasi.
Sistem zonasi pendidikan menekankan bahwa semua anak usia sekolah harus bisa memperoleh kesempatan untuk mengikuti pendidikan. Agar tidak menjadi beban, maka hal-hal yang menjadi kendala -khususnya biaya- ditekan seminimal mungkin, bahkan digratiskan. Oleh karena itu sekolah harus bisa dinikmati oleh penduduk yang tinggal di sekitarnya. Itulah sistem zonasi. Dengan demikian seorang siswa pasti bisa masuk sekolah karena tidak lagi memikirkan biaya transport maupun biaya kost karena sekolah di tempat jauh.
Namun demikian, kemampuan sekolah menerima siswa baru juga terbatas. Tidak semua siswa yang mendaftar bisa ditampung di sekolah tersebut. Oleh karena itu dilakukan seleksi. Dari sinilah akan ada siswa yang diterima sejumlah tempat duduk yang ada dan selebihnya tidak diterima karena kuota tempat duduknya sudah habis.
Lantas sekolah dimana?
Bagi yang tidak bisa masuk dalam sekolah yang terdekat, maka harus mencari sekolah lain di sekitar tempat tinggal yang nasih cukup dekat. Tidak mau! Maunya masuk sekolah itu yang favorit. Anak saya kan pinter, maka harus masuk sekolah favorit! Orang tua masih saja berpegang pada konsep lama. Sekarang tidak lagi ada sekolah favorit Pak, semua sekolah sama. Bahkan sekolah negeri dan sekolah swasta juga setara kedudukannya; begitu penjelasan saya kepada orang tua siswa yang dari tadi protes dan tampak kesal karena anaknya tidak bisa masuk ke sekolah yang katanya 'favorit' tersebut.
"Huh, dasar orang tua kolot!", gumam saya dalam hati. Loh, saya kok jadi bingung sendiri. Sebenarnya siapa yang salah ya? He... he.... [Mukhlis]

Senin, 17 Desember 2018

ANGIN SIKLON, SI PUTING BELIUNG YANG BERBAHAYA?

Fenomena alam angin topan atau puting beliung belakangan ini yang menimpa wilayah Bogor, Ponorogo, Blora dan beberapa daerah lainnya, sesungguhnya gejala alam yang sudah pernah berlangsung di belahan bumi lainnya. Jadi seharusnya masyarakat jangan terlalu kaget dalam menanggapi gejala alam yang satu ini. Permasalahannya adalah bagaimana bisa meminimalisir dampak kerugian akibat peristiwa ini.

Puting beliung yang merupakan jenis angin siklon ini, merupakan bencana, manakala menyasar pada wilayah pemukiman. Banyak kerusakan yang timbul akibat angin siklon ini, baik berupa pepohonan yang tumbang dan mengenai rumah dan menimbulkan kehancuran, maupun korban jiwa. Kita semua tahu bahwa bencana tidak bisa dihindari, sehingga yang harus diperhatikan adalah upaya-upaya yang seharusnya masyarakat tahu dan paham berkaitan dengan kebencanaan. Tiadak lain adalah untuk menghindari korban besar, terutama korban nyawa.

Angin topan hampir muncul setiapa tahun. Ada yang sangat kuat, sedang, dan daya kecil. Secara struktur, angin siklon ini terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara pada daerah yang berdekatan karena pengaruh cuaca pada wilayah tersebut. Tingkat kuat dan lemahnya angin topan ini tergantung disparitas/perbedaan tekanan udara yang ada. Namun demikian kemunculan angin topan harus selalu diwaspadai. Oleh karena itu masyarakat perlu dibekali pengetahuan tentang angin topan ini. Nah, siapa yang berkewajiban mengedukasi masyarakat perihal angin siklon?

Berikut ini hal-hal yang perlu diketahui seputar angin topan:
1. Angin topan atau angin siklon atau puting beliung atau apapun namanya, muncul pada awal musim penghujan atau masuk musim pancaroba.
2. Jika terjadi angin topan, sedapat mungkin menjauh dari area jangkauan angin; kalau bisa lari secepat mungkin agar jauh dari pusaran angin topan.
3. Berlindung dari kemungkinan reruntuhan bangunan ataupun pohon yang tumbang.
4. Selamatkan nyawa diri Anda dan juga orang-orang yang berada di dekat Anda. Maksud saya utamakan keselamatan jiwa terlebih dahulu daripada harta.
5. Banyak berdo'a dan mendekat pada Allah, Tuhan yang maha kuasa, karena akan berefek pada ketenangan dan kekuatan jiwa.

Semoga bermanfaat!

Rabu, 28 Juni 2017

Khutbah Pasca Romadhon



Khutbah Jum’at Pertama Setelah Idul Fitri
(Masjid Nurul Qur’an Puri Asri Comal)
Oleh: Mukhlis

الحمد لله الذي جعل اليوم عيدا لعباده المؤمنين. وختم به شهر الصيام للمخلصين.وجعل في طاعته عز الدنيا والاخرة للطائعين. اشهد ان لااله الا الله وحده لاشريك له شهادة بها تطهر القلوب من الغش اللعين. واشهد ان محمدا عبده ورسوله اطوع الخلق لرب العالمين. اللهم فصل وسلم وبارك على سيد نا محمد وعلى اله واصحابه الجاهدين. اما بعد:              
 فيا أيها المسلمون رحمكم الله
أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتّقون. قال الله تعالى في القرأن الكريم وهو أصدق القائلين: قال عيسى ابن مريم اللهم ربنا أنزل علينا مائدة من السماء تكون لنا عيدا لأوّلنا وأخرنا وأية منك, وارزقنا وأنت خير الرازقين
Marilah kita selalu bersyukur kepada Allah SWT atas karunia nikmat yang telah kita terima. Begitu banyak nikmat Allah kepada kita salah satu diantaranya adalah nikmat dijadikannya bulan Romadhon yang penuh barokah; bulan Romadhon yang telah membakar dosa-dosa kita sehinggaa kita mendapat ampunan dari Allah SWT, dan akhirnya kita kembali menjadi fitri. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi yang agung, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarganya ,para shabatnya, dan kepada seluruh pengikutnya, amin. Tidak lupa marilah kita selalu meningkatkan takwa kepada Allah sebagaimana perintahNya, ittakullah. Ittakullaha haqqo tqotih, wala tamutunna illa waantum muslimun. Bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang benar, dan janganlah kamu sekalian mati kecuali dalam memeluk agama Islam.
Hadirin, jamaah Jum’at Rahmakumullah!
Kini Romadhon telah meninggalkan kita, ketika kita ditempa, dilatih, dididik, selama satu bulan dengan amalan-amalan Romadhon; kita melaksanakan puasa, kita dilatih untuk bersabar, dilatih untuk qiyamullail dengan melaksnakan sholat tarawih, dididik menjadi orang yang gemar bersodaqoh, peduli terhadap sesama, tentu semua latihan dan tempaan tersebut membekas dihati dan pikiran kita. Pada akhirnya kita menjadi pemenang, lulus dengan predikat idul fitri yang maksudnya kembali kepada fitrah kita sebagai manusi yang suka kepada kebaikan. Idul fitri juga diartikan sebagai kembali suci laksana seorang bayi yang baru lahir, tidak ada dosa, tidak ada kotoran karena masih suci dari rahim sang Ibu. Tentunya hal ini karena kita semua menjalani ibadah puasa di bulan Romadhon dengan penuh keikhlasan sebagaimana yang disabdakan Rosulullah SAW; “Man sooma romadhona iimanan wahtisaaban, ghufira lahu maa taqoddama min dhan bihi”. Barang siapa yang berpuasa dengan penuh keimanan dan sematamata ikhlas mengharap ridho Allah, maka baginya ampunan Allah terhadap dosa-dosa yang telah lalu. Mudahmudahan Allah menerima semua amalan puasa kita sehingga kita benar-benar suci dari dosa. Amin.
Jika idul fitri kita maknai sebagai kembali kepada fitrah kesucian, maka di dalamnya terdapat tiga unsur yang saling berkatan, yakni: benar, baik dan indah. Dengan berpedoman kepada ketiga ini, maka seseorang yang ber-idul fitri senantiasa akan berbuat sesuatu yang indah, benar dan baik. Bahkan dengan kesucian jiwanya, ia akan berusaha memandang segalanya secara positive thinking. Dalam hubungannya dengan sesama manusia, ia secara maksimal akan mencari sisi-sisi yang baik, benar dan indah. Ia menyadari bahwa dengan mencari yang indah, akan melahirkan estetika, mencari yang baik akan melahirkan etika, dan mencari yang benar akan melahirkan logika. Dengan pandangan demikian, maka seseorang itu tidak mempunyai waktu lagi untuk mencari keburukan dan kesalahan orang lain. Kalaupun ia menemukannya, ia akan memberi ma’af atau bahkan berbuat baik kepada orang yang melakukan kesalahan itu. Sikap seperti itulah yang dituntut dari seorang Muslim yang bertakwa. Allah berfirman dalam surat Ali Imran:
وسارعوا الى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السموات والارض اعد ت للمتقين. الذين ينفقون فى السراء والضراء والكاظمين الغيظ والعافين عن الناس والله يحب المحسنين.
“Dan bersegaralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu, dan kepada sorga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
 Mengutip dua poin terakhir dari kandungan ayat ini, yaitu mema’afkan kesalahan orang lain dan berbuat baik terhadap makhluk lain, terdapat suatu kisah menarik, yaitu bahwa konon ada salah seorang sahabat Rasul yang pernah bersumpah untuk tidak berbuat baik terhadap seseorang, yang telah melakukan kesalahan terhadap anggota keluarganya. Dengan sikap tersebut, Ia ditegur oleh Rasulullah dengan turunnya ayat:
ولا يأتل اولى الفضل منكم والسعة ان يؤتوا اولى القربى والمساكين والمهاجرين فى سبيل الله وليعفوا وليصفحوا الاتحبون ان يغفر الله لكم والله غفور رحيم.
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu, bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” QS. Al-Nur(24): 22.
             Konsep mema’afkan merupakan ajaran Islam yang utama, karena itu perintah untuk mema’afkan, berulang kali disebut dalam al-Qur’an. Kata ma’af dalam al-Qur’an diistilahkan dengan kata al-‘afwu, yang berarti “menghapus”, karena prilaku mema’afkan itu sebenarnya adalah menghapus bekas-bekas luka yang terdapat di dalam hati. Dengan demikian, tidak dapat dikatakan mema’afkan jika masih ada sesuatu yang tersisa sebagai bekas luka itu di hati. Itu sebabnya, sebagian ulama fiqh menuntut agar seseorang yang memohon ma’af dari orang lain, terlebih dahulu menyesali perbuatannya, bertekad untuk tidak akan melakukannya lagi, serta meminta ma’af sambil mengembalikan hak yang pernah diambilnya. Selanjutnya, refleksi dari al-‘afwu itu harus dimanifestasikan dalam bentuk al-shafhu. Kata ini pada mulanya berarti “kelapangan.” Darinya dibentuk kata shafhat yang berarti “lembaran atau halaman” serta mushafahat yang berarti “berjabat tangan.” Seseorang yang melakukan al-safhu, dituntut untuk melapangkan dadanya, sehingga mampu menampung segala ketersinggungan, dengan menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru. Al-Safhu yang digambarkan dalam bentuk berjabat tangan itu, menurut al-Raghib al-Asfahaniy, dipandang lebih tinggi nilainya dari pada sekadar mema’afkan.
Hadirin jamaah Jum’at Rahima Kumullah!
Sebagai kata akhir dari uraian ini, maka dapat diambil suatu konklusi bahwa sejatinya, seluruh rangkaian ibadah di bulan Ramadhan, baik shalat, puasa, zakat dan shalat Id itu sendiri, dimaksudkan untuk mengembalikan fitrah kemanusiaan kita. Orang yang berhasil menjadikan Ramadhan sebagai momen untuk mengembalikan fitrah ini, yaitu setelah sebelas bulan yang lalu mengalami rona maksiat dan debu dosa, maka ia layak beridul fitri, merayakan kemenangan karena berhasil mengembalikan fitrahnya dalam kesucian. Inilah makna sabda Rasul yang menyebutkan bahwa Siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan berharap pahala dari Allah, maka diampuni segala dosanya yang telah lalu. Man Shama Ramadhana Imanana Wah Tisaban, Ghufiro Lahu Ma Taqaddama Min Dzabihi. Ketika dosa masa lalu telah diampuni, maka ia kembali suci, sebagaimana ketika dilahirkan. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang layak merayakan idul fitri dalam makna yang sebenarnya, bukan idul fitri yang bersifat seremonial belaka. Laisal Idu Liman Labisal Jadid, Wa Lakinnal Idu Liman Tho’atuhu Tazid. Bukanlah Beridul Fitri itu bagi orang yang memakai baju baru, tetapi idul fitri itu bagi orang yang ketaatannya bertambah.
بارك الله لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.


Khutbah II
الحمدلله الذى ارسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على دين كله ولو كره الكافرون
اشهد ان لااله الاالله وحده لاشريك له واشهد ان محمدا عبده ورسوله
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله واصحابه اجمعين. امابعد !
فياايهاالناس اتقوالله, إن الله امركم بأمر بداء بنفسه وثنى بملائكته وأيه بالمؤمنين من عباده, فقال تعالى فى كتابه العظيم, إن الله وملائكته يصلون على النبى ياايهاالذين أمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما, اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله واصحابه وعلى اربعة الخلفاءالراشدين سيدنا ابى بكر وعمر وعثمان وعلي والتابعين وتابع التابعين ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين برحمتك ياارحم الراحمين
.اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات ياقضي الحاجات,     اللهم الف بين قلوبنا واصلح دات بيننا واهدناالسبل السلام ونجنا من الظلمات الى النوروجنبنا فواخش ماظهر وما بطن وبارك لنا فى اسما ئنا وابصارنا وقلوبنا وازواجنا وذرياتنا وتلاميذنا وتب علينا انك انت التواب الرحيم. اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخَشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا، وجَعَلَنَا اللهُ وَإيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَأدْخَلَنَا وَإيَّاكُمْ فِيْ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ  
ربنا اتنا فى الدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذابالنار.
عبادالله, إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذى القربى وينهى عن الفحساء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون, فاذكروالله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم ولذكرالله أكبر
  

Jumat, 09 Juni 2017

STATUS dan STATUTA

Kata status berasal dari kata Latin status yang bermakna ‘keadaan, kedudukan, kondisi’ dan merupakan bentuk turunan dari kata stare yang bermakna ‘menempatkan, berada pada. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata status bermakna keadaan atau kedudukan (orang, badan, dsb.) dalam hubungannya dengan masyarakat di sekelilingnya; keadaan atau kedudukan orang atau sesuatu di mata hukum.  
Kata statuta berasal dari bahasa Latin statutum yang bermakna ‘aturan atau hukum’. Kata statutum yang merupakan bentuk turunan dari statuere yang berarti ‘menata, mendirikan, mengatur’ juga berasal dari kata stare pada status. Menurut KBBI, kata statuta bermakna anggaran dasar suatu organisasi. Anggaran dasar dalam organisasi juga dimaknai sebagai peraturan. Istilah peraturan untuk negara adalah undang-undang dasar, sedangkan untuk perkumpulan adalah statuta. (sumber: Pojok Bahasa, Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa)

Minggu, 04 Juni 2017

Belajar Ramadhan

Bulan penuh rahamat Allah telah datang menghampiriku. Ramadhan, adalah bulan yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk disambut dengan gembira. Betapa tidak, dalam bulan ini Allah akan melipatgandakan pahala bagi orangorang yang berpuasa dengan sepuluh kebaikan, dan bahkan terhadap pahala puasa itu sendiri Allah akan memberi pahala secara langsung yang banyak terserah Allah. Nah, ingat bahwa Allah itu maha kaya dan pemurah, sehingga jika Allah memberi sendiri berarti Allah sangat menghargai orang yang mau berpuasa Ramadhan.
Dari kegiatan puasa di bulan Ramadhan, saya belajar banyak hal. Ada seteguk air yang begitu nikmat saat berbuka. Kenikmatan itu sudah lama terlupakan, bahkan seringkali ada air minum yang disia-siakan, dibuang percuma. Namun saat puasa, rasanya seteguk air begitu sangat berharga.
Belajar dari Ramadhan ini membawa saya untuk berpikir betapa kekuasaan Allah sangat besar, sekaligus diri saya dan orang-orang juga sangat kecil.   Pantaslah ucapan yang diajarkan oleh Rasulullah "La haula wala kuata illa billahil aliyyil adhim"  sudah tahu artinya?

Sabtu, 27 Mei 2017

REBORN: Qonitacentil.blogspot

Setelah sekian lama tidak aktif, kini dan insya-Allah, blog ini akan terus hadir untuk berkontribusi dalam membangun bangsa menjadi lebih baik. Reborn, judul yang saya tulis mewakili apa yang menjadi obsesi dari blog ini yang seolah lahir kembali setelah sekian lama tidak aktif karena satu dan lain hal. Obsesi kelestarian alam sebagai isu sentral. Semoga blog ini bisa meng-edukasi pembaca bagaimana menjaga kelestarian bumi kita. bumi kita merupakan tempat tinggal kita; jangan dirusak, jangan dihancurkan. Mari jaga dan lestarikan agar memberi daya dukung bagi kehidupan kita dan anak cucu kita. Jadilah orang yang bermanfaat untuk kehidupan.

Sabtu, 31 Oktober 2015

BERPIKIR

Berpikir merupakan aktifitas jiwa. Berpikir tidak lain kegiatan proses menemukan sesuatu; sesuatu tersebut pada umumnya disebut dengan kebenaran. Jadi berpikir merupakan proses mencari kebenaran yang dilakukan dengan menggunakan akal fikiran (wilayah jiwa) karena ada kebutuhan untuk memperoleh kebenaran tersebut.

Orang yang berpikir berarti ada sesuatu yang dipikirkan (dibutuhkan). Sebaliknya orang yang tidak berpikir karena ia tidak membutuhkan sesuatu yang dipikirkan. Coba amati dalam kehidupan sehari-hari. Ada seorang ibu yang begitu memikirkan anaknya yang berada di tempat jauh, sehingga muncul perasaan kangen (butuh ketemu). Demikian juga dua orang kekasih yang saling rindu manakala berjauhan, karena keduanya saling membutuhkan.

Dalam kehidupan siswa di sekolah bagaimana? Sama saja. Ada anak yang berpikir keras bagaimana menyelesaikan soal, tetapi ada juga anak yang tidak berpikir. Bagi siswa yang berpikir keras, karena anak tersebut butuh prestasi, tetapi bagi anak yang kedua, ia tidak mau berpikir karena ia tidak butuh prestasi.

Jika sudah mengetahui letak pemicu aktifitas berpikir ternyata pada kebutuhan/minat, maka yang terpenting dalam mamacu prestasi belajar anak adalah bagaimana membangkitkan minat atau kebutuhan prestasi pada anak. 

Selasa, 09 September 2014

KRITIK SOSIAL PERLU SANTUN

Kemerdekaan dalam berpendapat jangan diartikan bebas tanpa batas. Kenyataannya ada pihak-pihak yang merasa dirugikan dan merasa terganggu ketika ada kritik yang disampaikan dengan cara-cara yang tidak sopan. Wal hasil pihak penyampai kritik pun ditangkap oleh pihak yang berwajib atas dasar ada aduan dari pihak-pihak yang dirugikan. Begitulah yang terjadi belakangan ini di Yogyakarta dan di Bandung.

Mungkin maksudnya bukan mau membuat orang lain marah, atau terganggu atas apa yang disampaikan. Tujuannya adalah menyampaikan pendapat sekaligus kritik agar ada perbaikan terhadap kondisi sosial yang disampaikan. Dengan kata lain, maksud tulisan yang diunggah di media sosial memang ditujukan kepada khalayak ramai agar diketahui oleh orang banyak dan orang banyak tersebut merespon dengan perubahan yang positif. Namun niat baik ternyata tidak semuanya bisa diterima dengan baik oleh orang lain. Malah sebaliknya justru dengan kritik tersebut orang lain malah marah dan melaporkan kepada pihak yang berwenang. Kok, bisa begitu?

Ya, inilah perlunya komunikasi harus dibangun dalam bentuk yang lebih baik. Ada kemasan yang menarik, dengan tutur bahasa yang sopan, tetapi tetap sampai pesan yang diinginkan. Inilah yang dimaksud santun dalam menyampaikan pendapat. Saya yakin jika mahasiswa UGM (siapa namanya?) dan juga mahasiswa di Bandung yang mengkritik kepada Pemerintah setempat dengan bahasa yang santun tentu tidak akan ada lapor-melapor yang berujung dengan urusan polisi karena dianaggap sebagai tindakan kriminal.

Belajar dari dua peristiwa tersebut, mari biasakan berkomunikasi dengan bahasa yang santun. Bahasa sebagai alat komunikasi yang terucap/tertulis merupakan hasil buah pikiran yang bersangkutan. Tutur kata yang terucap memang mewakili dari kepribadian dan karakter yang bersangkutan. Oleh karena itu manakala yang terucap/tertulis merupakan bahasa yang kasar, sudah pasti kepribadian yang bersangkutan juga kasar. Oleh karena itu berhati-hatilah dalam berkomunikasi. Gunakanlah tutur bahasa yang baik, santun. Ada pepatah lama yang sudah jarang terdengar belakangan ini, "Bahasa Menunjukkan Bangsa". Maksudnya ucapan seseorang dalam berkomunikasi menunjukkan nilai kepribadian orang yang bersangkutan.

Nah ada satu lagi yang juga perlu diingat, yang ini cukup populer. "Mulutmu Harimaumu". Kira-kira apa maksudnya?! Ya, Anda pasti sudah tau. Yang terpenting, mulai sekarang semua bisa belajar dari kasus Yogyakarta dan Bandung, dalam kritik mengkritik melalui jejaring media sosial.


Senin, 07 Juli 2014

PERLU BIJAK dalam MENILAI PRESTASI BELAJAR ANAK

Awal tahun pelajaran banyak orang tua sibuk mempersiapkan pendidikan untuk putra putrinya. Bagi anak yang harus naik jenjang sekolah, orang tua akan memilihkan sekolah terbaik untuk anaknya. Bahkan kadangkala sedikit memaksakan kehendak, walaupun si anak kurang minat pada sekolah pilihan orang tua. Akhirnya yang terjadi ada sedikit tertekan kejiwaan si anak; kemudian kalau anak tersebut tidak bisa menyesuaikan, maka akan menjadi beban tersendiri bagi kejiwaannya (stres).
Sebaiknya sikap orang tua harus bagaimana agar bisa membantu perkembangan anak dalam pendidikan? Berikut ini ada artikel yang cukup bagus dari Pak Eko Winarto, guru SMA 1 Geger, yang saya copas untuk bisa kita renungkan bersama.
"Apa yang paling dibanggakan orang tua dari anak-anaknya? Boleh jadi adalah kecerdasan scholastic, seperti matematika, bahasa, menggambar (visual), musik (musical), dan olahraga (kinestetik) .
Tetapi, pernahkah kita membanggakan jika anak kita memiliki kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal, atau kecerdasan interpersonal?
Rasanya jarang, sebab ketiga kecerdasan yang terakhir hampir pasti uncountable, tidak bisa dihitung, dan sayang sekali tidak ada nilainya di sekolah, karena di sekolah hanya memberikan penilaian kuantitatif.

Ada sebuah cerita tentang seorang anak, sebut saja namanya Tika (6,5 tahun), kelas I SD. Ia memiliki banyak sekali teman. Dan ia pun tidak bermasalah harus berganti teman duduk di sekolahnya. Ia juga bergaul dengan siapa saja di lingkungan rumahnya. Ada satu hal yang menarik saat ia bercerita tentang teman-temannya.
“Bu, Ifa pinter sekali lho, Bu…! Pinter Matematika , Bahasa Indonesia, Menggambar.. ..pokoknya pinter sekali….!” katanya santai. Vivi juga pintar sekali menggambar, gambarnya bagus …sekali! Kalau si Yahya bisa menghafal banyaaak…. sekali!”
Ya memang Tika senang sekali membanggakan teman-temannya. Ketika mendengar celoteh anaknya ibunya tersenyum dan bertanya, “Kalau mbak Tika pinter apa?” Ia menjawab dengan cengiran khasnya,”
Hehehe…kalau aku, sih, biasa-biasa saja”. Jawaban itu mungkin akan sangat biasa bagi anda, tetapi ibunya tertegun, karena pada dasarnya Tika memang demikian. Ia biasa-biasa saja untuk ukuran prestasi scholastic.
Tapi coba kita dengarkan apa cerita gurunya, bahwa Tika sering diminta bantuannya untuk membimbing temannya yang sangat lamban mengerjakan tugas sekolah, mendamaikan temannya yang bertengkar.
Bahkan ketika dua orang adiknya, Abi (4,5 tahun) dan Ayu (2,5 tahun) bertengkar. Tika langsung turun tangan. “Sudah..! sudah, Dik! sama saudara tidak boleh bertengkar, Hayo tadi siapa yang mulai?” Adiknya saling tunjuk.”Hayo, jujur … Jujur itu disayang Allah..! Sekarang salaman ya… saling memaafkan”.
Pun ketika suatu hari ia melihat baju-baju bagus di toko, dengarlah komentarnya:
“Wah bajunya bagus-bagus ya Bu? Tika sebenarnya ingin, tapi bajuku di rumah masih bagus-bagus, nanti saja kalau sudah jelek dan Ibu sudah punya rezeki, aku minta dibelikan …”
Ibunya pun tak kuasa menahan air matanya, Subhanallah anak sekecil itu sudah bisa menunda keinginan, sebagai salah satu ciri kecerdasan emosional.
Saya sebenarnya ingin berbagi cerita tentang ini kepada anda, karena betapa banyak dari kita yang mengabaikan kecerdasan-kecerdasan emosional seperti itu. Padahal kita tahu dalam setiap tes penerimaan pegawai, yang lebih banyak diterima adalah orang yang mempunyai kecerdasan emosional walaupun dari sisi kecerdasan scholastic adalah BIASA-BIASA SAJA.
Kadang kita merasa rendah diri manakala anak kita tidak mencapai ranking sepuluh besar di sekolah. Tetapi herannya, kita tidak rendah diri manakala anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang egois, mau menang sendiri, sombong, suka berbohong atau tidak bisa bergaul.
Maka ketika Tika mengatakan “AKU BIASA-BIASA SAJA”, maka saat itu ibunya menjawab “Alhamdulillah, mbak Tika suka menolong teman-teman, tidak sombong, mau bergaul dengan siapa saja. Itu adalah kelebihan mbak Tika , diteruskan dan disyukuri ya..?”
Ya… ibunya ingin mensupport dan memberikan reward yang positif bagi Tika . Karena kita tahu anak-anak kita adalah amanah dan suatu saat amanah itu akan diambil dan ditanyakan bagaimana kita menjaga amanah. Sebagaimana doa kita setiap hari agar anak-anak menjadi penyejuk mata dan hati.
Sudahkah kita mencoba untuk menggali potensi-potensi kecerdasan emosional anak-anak kita? Kalau belum mulailah dari diri kita, saat ini juga."

Nah, dari tulisan ini kita bisa memperoleh pelajaran berharga bahwa ternyata kecerdasan anak bukan hanya berupa kecerdasan scholastic saja, namun ada kecerdasan-kecerdasan spiritual dan emosional, yang justru itu sangat diperlukan dalam pengembangan kemampuan dimasa depan si anak. Bahkan justru itulah yang menjadi faktor kesuksesan anak pada kehidupan kelak dewasa. Kecerdasan emosional seperti sabar, suka menolong, pandai bergaul, menghargai teman, dan sebagainya merupakan softskill yang dalam kurikulum terbaru (kurikulum 2013) sangat ditekankan. 
He...he..., bagaimana? Apakah masih menuntut anak kita supaya nilai matematikanya tinggi, bahasa Inggrisnya seratus, dan menekan anak supaya tidak keluar rumah, agar tidak bermain? Ataukah kita bisa menjadi orang tua yang bijak dalam memandang dan menilai anak? Semua berpulang kepada Anda.

Senin, 30 September 2013

KESAKTIAN PANCASILA

Hari ini, 1 Oktober 2013, bangsa Indonesia memperingati hari kesaktian Pancasila. Jangan salah persepsi, jangan salah penafsiran. Kesaktian Pancasila disini hanya istilah. bukan Pancasila sakti seperti saktinya keris milik Damar Wulan tokoh dalam cerita Majapahit yang melegendaris, namun kesaktian disini lebih bermakna bahwa bangsa Indonesialah yang menjaga "keskatian Pancasila". Tahu maksudnya?
Begini, Pancasila sebagai ideologi bangsa, harus terus dijaga oleh segenap bangsa Indonesia. Nilai-nilai Pancasila -Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia- harus diamalkan oleh seluruh rakyat Indonesia. Kalau tidak diamalkan, bukan tidak mungkin Pancasila menjadi lemah dan hilang kesaktiannya. Hehehe... mau? Tentu tidak, bukan?
Kalau kita masih menghendaki Pancasila tetap "sakti", mari kita amalkan pancasila secara totalitas. Jangan setengah-setengah.
Pertama; Ketuhanan Yang Maha Esa.
Kita bangsa Indonesia, harus bertakwa kepada Tuhan. Pemeluk agama apapun, harus mengamalkan ajaran dan petunjuk agama masing-masing. Ketkwaan bangsa Indonesia sangat diharapkan untuk memperbaiki bangsa dan negara ini yang disinyalir karena banyak dari bangsa Indonesia ini yang mulai menjauh dari Tuhan. Masalah ketakwaan ini menjadi sangat penting untuk dimasyarakatkan kepada seluruh warga Indonesia. Sebaliknya, peng-abaian, terhadap ketakwaan akan menyeret kehancuran bangsa dan negara. Mau coba? Eh, jangan coba-coba! Perilaku koruptor selama ini sudah merupakan percobaan terhadap penghancuran bangsa dan negara. Jangan ditambah-tambahi.
Kedua; Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Bagi bangsa Indonesia, harus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Tidak boleh ada praktik penindasan, eksploitasi seseorang kepada orang lain dengan dalih apapun. Pemanusiaan manusia benar-benar diupayakan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dalam masyarakat terjadi kehidupan yang tenteram karena hubungan satu sama lain didasari adab yang tinggi. Yakni nilai keadilan benar-benar terwujud dan bisa dirasakan oleh setiap anggota masyarakat.
Ketiga: Persatuan Indonesia
Persatuan dalam bingkai NKRI harus menjadi sesuatu yang dicita-citakan oleh setiap penduduk. Dengan demikian, akan muncul sikap dan tindakan yang mengarah terwujudnya persatuan dalam setiap komunitas muali dari lingkup terkecil sampai lingkup yang luas (nasional). Untuk lebih bisa merasakan betapa perlunya persatuan ini, maka masing-masing anggota masyarakat harus menganggap bahwa Indonesia ini adalah rumah kita, tempat kita tinggal bersama dengan anggota keluarga yang lain.
Keempat; Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
Pancasila masih dikatakan sakti, kalau dalam kehidupan berbangsa dan bernegara masih mengedepankan sifat-sifat kerakyatan. Lebih jelasnya, segala sesuatu yang dituju dalam pembangunan itu adalah untuk kepentingan rakyat banyak. Bukan untuk kepentingan penguasa. Oleh karena itu penguasa/pemerintah harus memimpin secara bijaksana dan bermusyawarah dalam mengambil kebijakan yang sifatnya strategis.
Kelima; Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Disinilah letak kesaktian yang lebih terasa, jika rasa keadilan bisa terwujud dalam kehidupan sosial. Bukan pada masyarakat tertentu saja, semua lapisan masyarakat bisa merasakan adanya keadilan dalam kehidupan. Keadilan dalam ekonomi, hukum, layanan sosial, layanan kesehatan, layanan pendidikan, layanan informasi dan kesempatan yang sama dalam berusaha.

Nah, jika indikator-indikator tersebut belum nampak dalam kehidupan sehari-hari, maka kita perlu merenung lebih dalam lagi berkaitan dengan peringatan hari kesaktian Pancasila. Mengapa? jawabnya karena kita tidak ingin Pancasila yang begitu hebat itu ternyata keropos tidak berisi. Mari kita jaga Pancasila dasar negara kita ini untuk betul-betul kuat dan sakti!

Jumat, 12 Juli 2013

PARASIT EKONOMI

Oleh: Mukhaer Pakkanna
Ketua STIE Ahmad Dahlan Jakarta


Kendati dua lembaga pemeringkat internasional telah menyematkan gelar investment grade dengan rating BBB- oleh Fitch Rating dan gelar peringkat utang Indonesia dari Ba1 menjadi Baa3 dengan prediksi stabil oleh Moody’s Corporation, ada satu pertanyaan tersisa, yakni, siapkah Indonesia mengelola gelontoran dana investasi global jika benar-benar efek rating membanjiri invetasi di Tanah Air?
Memang, pengelolaan anggaran Negara baik yang berasal dari pemerintah, swasta, maupun pihak asing (utang dan investasi), selama ini dihambat keruwetan pola birokrasi dan perilaku budaya politik yang kurang transparan dan akuntabel. Konsekuensinya, berapapun realisasi anggaran yang dikelola Negara dan swasta kerap kali ketelingsut oleh pola dan perilaku itu. Banyaknya pungutan liar (pungli), seperti laporan utama Republika, Selasa, 14 Februari 2012 mengonfirmasi dan menegaskan perilaku itu.
Pada dekade 1980-an, Sumitro Djojohadikusumo melansir, kebocoran anggaran Negara mencapai 30% setiap tahunnya. Di sisi lain, riset CIDES pada akhir 1990-an juga menyampaikan, biaya produksi perusahaan hampir 30% tidak berkait langsung dengan ongkos produksi riil, tapi lebih banyak berkaitan pungli, yang menimbulkan high cost economy.
Bahkan, hingga detik ini pun, potensi kebocoran APBN terus menggelayut. Hasil audit BPK (2011) melansir, dalam kurun waktu tujuh tahun (2003-2010), jumlah APBN yang tidak jelas peruntukannya mencapai Rp103 triliun. Komposisi terbesar kebocoran terletak pada dana pengadaan barang dan jasa.  Indikatornya, terlihat pada penetapan harga perhitungan sendiri selalu lebih mahal 20-30 persen dari harga pasar. Bank Dunia pun pada 2008, melansir tingkat kebocoran anggaran pengadaan sekitar 10-50 persen.
Maka, berapa pun besaran dana baik bersumber dari hasil investasi asing, swasta, utang luar negeri, maupun sumber dana negara, menjadi penting dicermati di tengah  masih tingginya parasit (benalu) ekonomi nasional. Menjadi pertanyaan, sejauhmana efektifitas anggaran itu jika parasit masih bercokol kuat?
Parasit Ekonomi
Dalam ilmu tumbuhan, parasit dimaknakan sebagai jenis relasi simbiosis antara organisme dari spesies berbeda, yang menumpang makan dan mengorbankan tuan rumah.  Dalam terminologi Yunani, parasit berarti parasitos, “orang yang makan di meja lain”. Dalam konteks sosial, parasit sosial dimaknakan mengambil keuntungan dari interaksi antara anggota organisme sosial, yakni manusia, sistem sosial, kelembagaan, aturan, dan lainnya. Manusia sebagai bagian organisme sosial, kerap kali paling lihai memanfaatkan peluang, bahkan bisa saling membunuh di antara mereka. Parasit sosial berarti mematikan organisme lain (tuan rumah) demi keuntungan atau manfaat pribadi.
Maka, dalam konteks kegiatan ekonomi, parasit ekonomi  diartikan bukan sekadar bersifat strukural, tapi juga kultural.  Parasit ekonomi yang bersifat struktural diartikan, parasit yang dikonstruksi melalui produksi kebijakan oleh institusi yang memiliki kuasa dan uang, misalnya, pemerintah, pengusaha kakap, legislatif, pemburu rente, dan yudikatif.  Demi kepentingan pembiayaan politik misalnya, institusi kekuasaan ini memproduksi kebijakan ekonomi, yang justru bisa menciderai laju akselerasi ekonomi. Tidak mengherankan, jika banyak kebijakan yang diproduksi  justru meningkatkan high cost economy.
Di sisi yang lain, parasit ekonomi yang bersifat kultural, diartikan sebagai sikap mental (mindset) yang sudah mengkristal dalam perilaku masyarakat (habits), yang justru menghambat optimalisasi potensi ekonomi. Sikap  malas, kurang disiplin, kurang menghargai waktu, boros, dan produktivitas rendah, merupakan bagian parasit ekonomi yang sifatnya kultural. Konsekuensinya, entropi ekonomi menjadi rendah. Entropi ekonomi diartikan sebagai derajat ketidakteraturan dalam mengelola ekonomi yang disebabkan mindset masyarakat  yang kurang menghargai produktivitas dan kekuatan kolegialitas masyarakat. Semakin tinggi entropi ekonomi, semakin rendah laju percepatan, keadilan, dan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Mengenyahkan
Parasit ekonomi merupakan musuh utama dalam membangun daya saing ekonomi. Karena itu, ia harus segera dienyahkan. Melihat anatomi parasit ekonomi terpeta dalam parasit struktural dan kultural, setidaknya pada aspek struktural, yang perlu dilakukan, pertama, mengeyahkan inefisiensi birokrasi.  Pungli yang masih berseliweran dari hulu ke hilir menyebabkan pelaku usaha harus terbebani dengan tambahan biaya produksi. Ditambah lagi birokrasi perizinan usaha.
Jika Singapura dan Thailand membutuhkan waktu 3 hari untuk mengurus perizinan untuk membuka usaha baru, Indonesia justru 60 hari. Laporan Kegiatan Bisnis di Indonesia 2012 oleh International Finance Cooperation (IFC) dan World Bank, biaya rata-rata yang disyaratkan  dalam hal mendirikan usaha di 20 kota di Indonesia sebesar 22 persen dari pendapatan per kapita. Biaya notaris adalah yang terbesar. Nilainya bisa separuh dari total biaya.
Kedua, mengenyahkan gurita korupsi. Mengonfirmasi laporan akhir tahun PPATK (2011) bahwa selama tahun 2011 terkuak, dari jumlah total 175 laporan dugaan tindak pidana korupsi, sebanyak 50,3 persen dilakukan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Kemudian, dari 175 laporan dugaan tindak pidana korupsi itu, ada 42 kasus dengan jumlah nominal di bawah Rp 1 miliar per transaksi. Dan, 70 kasus dengan jumlah nominal Rp 1 miliar sampai Rp 2 miliar per transaksi, serta ada 33 kasus dengan jumlah nominal Rp2 miliar sampai Rp3 miliar per transaksi. Ini menandakan, serangan utama untuk mengenyahkan gurita korupsi, terletak pada aparat birokrasi pemerintahan, yang juga kerap “berselingkuh” dengan kuasa uang dan kuasa politik.
Ketiga,  pada aspek kultural, diperlukan pengenyahan entropi budaya (Ginanjar, 2012), yakni menekan derajat ketidakteraturan nilai-nilai yang semakin pragmatis, myopic, dan instant. Nilai-nilai seperti ini mendestruksi produktivitas, daya saing, dan sprit kolegialitas masyarakat. Masyarakat akhirnya cenderung nafsi-nafsi. Karena itu, diperlukan penanaman dan kritalisasi nilai-nilai religiusitas, yang tidak saja bersifat normatif, tapi diperlukan nilai-nilai yang kompatibel dan aplikabel dengan realitas. Maka, ruang pendidikan formal, informal, dan nonformal membutuhkan contoh dalam ucapan, laku, dan keteladanan.
Pada akhirnya, parasit ekonomi yang menghambat akselerasi kesejahteran dan keadilan ekonomi masyarakat, hanya bisa dipotong jika Indonesia memiliki strong leadership.

Dicopas dari:
http://mohammadwasil.dosen.narotama.ac.id/2013/05/03/parasit-ekonomi/#sthash.Sz9rbPPs.dpuf