Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Agustus 2020

HINDARI PERANGAI KERAS DAN KASAR

 بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ

Siapa yang suka kelembutan? Saya kira semua orang menyukainya. Bagaimanakah perasaan Anda jika ada orang yang bersikap kasar kepada Anda? Nah, kalau perasaan Anda kesal saat menerima perlakuan kasar, sebaiknya Anda jangan bertindak kasar. Perilaku Anda sebaiknya yang lembut kepada siapapun. Jangan keras kepada anak-anak, walaupun itu anak Anda sendiri. Apalagi jika anak orang lain.
Nah, perhatikan uraian berikut untuk menjadi catatan kita bersama bagaimana sebaiknya kita bersikap dalam kehidupan sehari-hari. Baca sampai tuntas ya!?
عن ابي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الحياء من الايمان والايمان في الجنة والبذاء من الجفاء والجفاء في النار
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Malu itu dari iman dan iman ada di surga, sedangkan perkataan keji itu dari perangai yang kasar dan perangai yang kasar ada di neraka." (Ahmad, No. 10108)
Islam mengajarkan kita untuk berakhlak mulia, berperangai lembut dan santun serta menjauhkan diri dari akhlak buruk, perangai keras dan kasar.
Termasuk dari perangai keras adalah mendengar adzan dan tidak menjawabnya, masuk masjid dan duduk di belakang meninggalkan shaf pertama, bersikap kasar kepada orang tua, belanja banyak di mall tanpa banyak pikir namun belanja ke pedagang kecil banyak menawar, dll.
Allah mewajibkan kita untuk peka dengan keadaan orang lain, berhati santun, dan berlemah lembut, Allah berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu".
(QS. Ali-Imran : 159)
"Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, "Termasuk dari mengagungkan Allah adalah memuliakan seorang muslim yang telah beruban." (Abu Dawud, No. 4203)
"Sesungguhnya orang yang paling dimurkai Allah adalah orang paling keras dan gemar dalam berbantah-bantahan".
(Bukhari, No. 2277).
"Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari, jika bertemu saling menjauhkan, dan yang paling baik di antara keduanya adalah yang memulai salam." (Bukhari, No. 5768)
"Orang mukmin itu bercirikan kasih sayang, dan tidak ada kebaikan pada orang yang tidak menyayangi dan tidak juga disayangi." (Ahmad, No. 21773)

Sumber: https://www.facebook.com/papi.ulifira dengan perubahan seperlunya.

Sabtu, 27 Mei 2017

REBORN: Qonitacentil.blogspot

Setelah sekian lama tidak aktif, kini dan insya-Allah, blog ini akan terus hadir untuk berkontribusi dalam membangun bangsa menjadi lebih baik. Reborn, judul yang saya tulis mewakili apa yang menjadi obsesi dari blog ini yang seolah lahir kembali setelah sekian lama tidak aktif karena satu dan lain hal. Obsesi kelestarian alam sebagai isu sentral. Semoga blog ini bisa meng-edukasi pembaca bagaimana menjaga kelestarian bumi kita. bumi kita merupakan tempat tinggal kita; jangan dirusak, jangan dihancurkan. Mari jaga dan lestarikan agar memberi daya dukung bagi kehidupan kita dan anak cucu kita. Jadilah orang yang bermanfaat untuk kehidupan.

Kamis, 04 Agustus 2011

Menggapai Kebahagiaan dalam Hidup


     Apakah Anda merasa kurang bahagia hari ini? Ataukah dalam hidup sehari-hari yang telah kita jalani terasa kurang bahagia? Persoalan bahagia dan tidak bahagia ternyata hanyalah persoalan rasa. Ya, rasa dalam hati kita masing-masing. 
     Mungkin Anda tidak percaya, tapi cobalah lihat orang-orang disekeliling kita. Apakah Anda mengira orang yang hidup sebagai pemulung, tukang ojeg, atau pedagang sayur tidak bahagia dalam hidupnya? Apakah kita memastikan tetangga kita yang menjadi direktur sebuah perusahaan, atau tetangga kita yang menjadi pejabat tinggi di pemerintah kabupaten pasti hidup dalam kebahagiaan? Tentu kita akan menjawab 'belum tentu'. Lantas dimana letak kebahagiaan hidup yang sesungguhnya?