Minggu, 04 Juni 2017

Belajar Ramadhan

Bulan penuh rahamat Allah telah datang menghampiriku. Ramadhan, adalah bulan yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk disambut dengan gembira. Betapa tidak, dalam bulan ini Allah akan melipatgandakan pahala bagi orangorang yang berpuasa dengan sepuluh kebaikan, dan bahkan terhadap pahala puasa itu sendiri Allah akan memberi pahala secara langsung yang banyak terserah Allah. Nah, ingat bahwa Allah itu maha kaya dan pemurah, sehingga jika Allah memberi sendiri berarti Allah sangat menghargai orang yang mau berpuasa Ramadhan.
Dari kegiatan puasa di bulan Ramadhan, saya belajar banyak hal. Ada seteguk air yang begitu nikmat saat berbuka. Kenikmatan itu sudah lama terlupakan, bahkan seringkali ada air minum yang disia-siakan, dibuang percuma. Namun saat puasa, rasanya seteguk air begitu sangat berharga.
Belajar dari Ramadhan ini membawa saya untuk berpikir betapa kekuasaan Allah sangat besar, sekaligus diri saya dan orang-orang juga sangat kecil.   Pantaslah ucapan yang diajarkan oleh Rasulullah "La haula wala kuata illa billahil aliyyil adhim"  sudah tahu artinya?

Sabtu, 27 Mei 2017

REBORN: Qonitacentil.blogspot

Setelah sekian lama tidak aktif, kini dan insya-Allah, blog ini akan terus hadir untuk berkontribusi dalam membangun bangsa menjadi lebih baik. Reborn, judul yang saya tulis mewakili apa yang menjadi obsesi dari blog ini yang seolah lahir kembali setelah sekian lama tidak aktif karena satu dan lain hal. Obsesi kelestarian alam sebagai isu sentral. Semoga blog ini bisa meng-edukasi pembaca bagaimana menjaga kelestarian bumi kita. bumi kita merupakan tempat tinggal kita; jangan dirusak, jangan dihancurkan. Mari jaga dan lestarikan agar memberi daya dukung bagi kehidupan kita dan anak cucu kita. Jadilah orang yang bermanfaat untuk kehidupan.

Sabtu, 31 Oktober 2015

BERPIKIR

Berpikir merupakan aktifitas jiwa. Berpikir tidak lain kegiatan proses menemukan sesuatu; sesuatu tersebut pada umumnya disebut dengan kebenaran. Jadi berpikir merupakan proses mencari kebenaran yang dilakukan dengan menggunakan akal fikiran (wilayah jiwa) karena ada kebutuhan untuk memperoleh kebenaran tersebut.

Orang yang berpikir berarti ada sesuatu yang dipikirkan (dibutuhkan). Sebaliknya orang yang tidak berpikir karena ia tidak membutuhkan sesuatu yang dipikirkan. Coba amati dalam kehidupan sehari-hari. Ada seorang ibu yang begitu memikirkan anaknya yang berada di tempat jauh, sehingga muncul perasaan kangen (butuh ketemu). Demikian juga dua orang kekasih yang saling rindu manakala berjauhan, karena keduanya saling membutuhkan.

Dalam kehidupan siswa di sekolah bagaimana? Sama saja. Ada anak yang berpikir keras bagaimana menyelesaikan soal, tetapi ada juga anak yang tidak berpikir. Bagi siswa yang berpikir keras, karena anak tersebut butuh prestasi, tetapi bagi anak yang kedua, ia tidak mau berpikir karena ia tidak butuh prestasi.

Jika sudah mengetahui letak pemicu aktifitas berpikir ternyata pada kebutuhan/minat, maka yang terpenting dalam mamacu prestasi belajar anak adalah bagaimana membangkitkan minat atau kebutuhan prestasi pada anak. 

Selasa, 09 September 2014

KRITIK SOSIAL PERLU SANTUN

Kemerdekaan dalam berpendapat jangan diartikan bebas tanpa batas. Kenyataannya ada pihak-pihak yang merasa dirugikan dan merasa terganggu ketika ada kritik yang disampaikan dengan cara-cara yang tidak sopan. Wal hasil pihak penyampai kritik pun ditangkap oleh pihak yang berwajib atas dasar ada aduan dari pihak-pihak yang dirugikan. Begitulah yang terjadi belakangan ini di Yogyakarta dan di Bandung.

Mungkin maksudnya bukan mau membuat orang lain marah, atau terganggu atas apa yang disampaikan. Tujuannya adalah menyampaikan pendapat sekaligus kritik agar ada perbaikan terhadap kondisi sosial yang disampaikan. Dengan kata lain, maksud tulisan yang diunggah di media sosial memang ditujukan kepada khalayak ramai agar diketahui oleh orang banyak dan orang banyak tersebut merespon dengan perubahan yang positif. Namun niat baik ternyata tidak semuanya bisa diterima dengan baik oleh orang lain. Malah sebaliknya justru dengan kritik tersebut orang lain malah marah dan melaporkan kepada pihak yang berwenang. Kok, bisa begitu?

Ya, inilah perlunya komunikasi harus dibangun dalam bentuk yang lebih baik. Ada kemasan yang menarik, dengan tutur bahasa yang sopan, tetapi tetap sampai pesan yang diinginkan. Inilah yang dimaksud santun dalam menyampaikan pendapat. Saya yakin jika mahasiswa UGM (siapa namanya?) dan juga mahasiswa di Bandung yang mengkritik kepada Pemerintah setempat dengan bahasa yang santun tentu tidak akan ada lapor-melapor yang berujung dengan urusan polisi karena dianaggap sebagai tindakan kriminal.

Belajar dari dua peristiwa tersebut, mari biasakan berkomunikasi dengan bahasa yang santun. Bahasa sebagai alat komunikasi yang terucap/tertulis merupakan hasil buah pikiran yang bersangkutan. Tutur kata yang terucap memang mewakili dari kepribadian dan karakter yang bersangkutan. Oleh karena itu manakala yang terucap/tertulis merupakan bahasa yang kasar, sudah pasti kepribadian yang bersangkutan juga kasar. Oleh karena itu berhati-hatilah dalam berkomunikasi. Gunakanlah tutur bahasa yang baik, santun. Ada pepatah lama yang sudah jarang terdengar belakangan ini, "Bahasa Menunjukkan Bangsa". Maksudnya ucapan seseorang dalam berkomunikasi menunjukkan nilai kepribadian orang yang bersangkutan.

Nah ada satu lagi yang juga perlu diingat, yang ini cukup populer. "Mulutmu Harimaumu". Kira-kira apa maksudnya?! Ya, Anda pasti sudah tau. Yang terpenting, mulai sekarang semua bisa belajar dari kasus Yogyakarta dan Bandung, dalam kritik mengkritik melalui jejaring media sosial.


Senin, 07 Juli 2014

PERLU BIJAK dalam MENILAI PRESTASI BELAJAR ANAK

Awal tahun pelajaran banyak orang tua sibuk mempersiapkan pendidikan untuk putra putrinya. Bagi anak yang harus naik jenjang sekolah, orang tua akan memilihkan sekolah terbaik untuk anaknya. Bahkan kadangkala sedikit memaksakan kehendak, walaupun si anak kurang minat pada sekolah pilihan orang tua. Akhirnya yang terjadi ada sedikit tertekan kejiwaan si anak; kemudian kalau anak tersebut tidak bisa menyesuaikan, maka akan menjadi beban tersendiri bagi kejiwaannya (stres).
Sebaiknya sikap orang tua harus bagaimana agar bisa membantu perkembangan anak dalam pendidikan? Berikut ini ada artikel yang cukup bagus dari Pak Eko Winarto, guru SMA 1 Geger, yang saya copas untuk bisa kita renungkan bersama.
"Apa yang paling dibanggakan orang tua dari anak-anaknya? Boleh jadi adalah kecerdasan scholastic, seperti matematika, bahasa, menggambar (visual), musik (musical), dan olahraga (kinestetik) .
Tetapi, pernahkah kita membanggakan jika anak kita memiliki kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal, atau kecerdasan interpersonal?
Rasanya jarang, sebab ketiga kecerdasan yang terakhir hampir pasti uncountable, tidak bisa dihitung, dan sayang sekali tidak ada nilainya di sekolah, karena di sekolah hanya memberikan penilaian kuantitatif.

Ada sebuah cerita tentang seorang anak, sebut saja namanya Tika (6,5 tahun), kelas I SD. Ia memiliki banyak sekali teman. Dan ia pun tidak bermasalah harus berganti teman duduk di sekolahnya. Ia juga bergaul dengan siapa saja di lingkungan rumahnya. Ada satu hal yang menarik saat ia bercerita tentang teman-temannya.
“Bu, Ifa pinter sekali lho, Bu…! Pinter Matematika , Bahasa Indonesia, Menggambar.. ..pokoknya pinter sekali….!” katanya santai. Vivi juga pintar sekali menggambar, gambarnya bagus …sekali! Kalau si Yahya bisa menghafal banyaaak…. sekali!”
Ya memang Tika senang sekali membanggakan teman-temannya. Ketika mendengar celoteh anaknya ibunya tersenyum dan bertanya, “Kalau mbak Tika pinter apa?” Ia menjawab dengan cengiran khasnya,”
Hehehe…kalau aku, sih, biasa-biasa saja”. Jawaban itu mungkin akan sangat biasa bagi anda, tetapi ibunya tertegun, karena pada dasarnya Tika memang demikian. Ia biasa-biasa saja untuk ukuran prestasi scholastic.
Tapi coba kita dengarkan apa cerita gurunya, bahwa Tika sering diminta bantuannya untuk membimbing temannya yang sangat lamban mengerjakan tugas sekolah, mendamaikan temannya yang bertengkar.
Bahkan ketika dua orang adiknya, Abi (4,5 tahun) dan Ayu (2,5 tahun) bertengkar. Tika langsung turun tangan. “Sudah..! sudah, Dik! sama saudara tidak boleh bertengkar, Hayo tadi siapa yang mulai?” Adiknya saling tunjuk.”Hayo, jujur … Jujur itu disayang Allah..! Sekarang salaman ya… saling memaafkan”.
Pun ketika suatu hari ia melihat baju-baju bagus di toko, dengarlah komentarnya:
“Wah bajunya bagus-bagus ya Bu? Tika sebenarnya ingin, tapi bajuku di rumah masih bagus-bagus, nanti saja kalau sudah jelek dan Ibu sudah punya rezeki, aku minta dibelikan …”
Ibunya pun tak kuasa menahan air matanya, Subhanallah anak sekecil itu sudah bisa menunda keinginan, sebagai salah satu ciri kecerdasan emosional.
Saya sebenarnya ingin berbagi cerita tentang ini kepada anda, karena betapa banyak dari kita yang mengabaikan kecerdasan-kecerdasan emosional seperti itu. Padahal kita tahu dalam setiap tes penerimaan pegawai, yang lebih banyak diterima adalah orang yang mempunyai kecerdasan emosional walaupun dari sisi kecerdasan scholastic adalah BIASA-BIASA SAJA.
Kadang kita merasa rendah diri manakala anak kita tidak mencapai ranking sepuluh besar di sekolah. Tetapi herannya, kita tidak rendah diri manakala anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang egois, mau menang sendiri, sombong, suka berbohong atau tidak bisa bergaul.
Maka ketika Tika mengatakan “AKU BIASA-BIASA SAJA”, maka saat itu ibunya menjawab “Alhamdulillah, mbak Tika suka menolong teman-teman, tidak sombong, mau bergaul dengan siapa saja. Itu adalah kelebihan mbak Tika , diteruskan dan disyukuri ya..?”
Ya… ibunya ingin mensupport dan memberikan reward yang positif bagi Tika . Karena kita tahu anak-anak kita adalah amanah dan suatu saat amanah itu akan diambil dan ditanyakan bagaimana kita menjaga amanah. Sebagaimana doa kita setiap hari agar anak-anak menjadi penyejuk mata dan hati.
Sudahkah kita mencoba untuk menggali potensi-potensi kecerdasan emosional anak-anak kita? Kalau belum mulailah dari diri kita, saat ini juga."

Nah, dari tulisan ini kita bisa memperoleh pelajaran berharga bahwa ternyata kecerdasan anak bukan hanya berupa kecerdasan scholastic saja, namun ada kecerdasan-kecerdasan spiritual dan emosional, yang justru itu sangat diperlukan dalam pengembangan kemampuan dimasa depan si anak. Bahkan justru itulah yang menjadi faktor kesuksesan anak pada kehidupan kelak dewasa. Kecerdasan emosional seperti sabar, suka menolong, pandai bergaul, menghargai teman, dan sebagainya merupakan softskill yang dalam kurikulum terbaru (kurikulum 2013) sangat ditekankan. 
He...he..., bagaimana? Apakah masih menuntut anak kita supaya nilai matematikanya tinggi, bahasa Inggrisnya seratus, dan menekan anak supaya tidak keluar rumah, agar tidak bermain? Ataukah kita bisa menjadi orang tua yang bijak dalam memandang dan menilai anak? Semua berpulang kepada Anda.

Senin, 30 September 2013

KESAKTIAN PANCASILA

Hari ini, 1 Oktober 2013, bangsa Indonesia memperingati hari kesaktian Pancasila. Jangan salah persepsi, jangan salah penafsiran. Kesaktian Pancasila disini hanya istilah. bukan Pancasila sakti seperti saktinya keris milik Damar Wulan tokoh dalam cerita Majapahit yang melegendaris, namun kesaktian disini lebih bermakna bahwa bangsa Indonesialah yang menjaga "keskatian Pancasila". Tahu maksudnya?
Begini, Pancasila sebagai ideologi bangsa, harus terus dijaga oleh segenap bangsa Indonesia. Nilai-nilai Pancasila -Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia- harus diamalkan oleh seluruh rakyat Indonesia. Kalau tidak diamalkan, bukan tidak mungkin Pancasila menjadi lemah dan hilang kesaktiannya. Hehehe... mau? Tentu tidak, bukan?
Kalau kita masih menghendaki Pancasila tetap "sakti", mari kita amalkan pancasila secara totalitas. Jangan setengah-setengah.
Pertama; Ketuhanan Yang Maha Esa.
Kita bangsa Indonesia, harus bertakwa kepada Tuhan. Pemeluk agama apapun, harus mengamalkan ajaran dan petunjuk agama masing-masing. Ketkwaan bangsa Indonesia sangat diharapkan untuk memperbaiki bangsa dan negara ini yang disinyalir karena banyak dari bangsa Indonesia ini yang mulai menjauh dari Tuhan. Masalah ketakwaan ini menjadi sangat penting untuk dimasyarakatkan kepada seluruh warga Indonesia. Sebaliknya, peng-abaian, terhadap ketakwaan akan menyeret kehancuran bangsa dan negara. Mau coba? Eh, jangan coba-coba! Perilaku koruptor selama ini sudah merupakan percobaan terhadap penghancuran bangsa dan negara. Jangan ditambah-tambahi.
Kedua; Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Bagi bangsa Indonesia, harus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Tidak boleh ada praktik penindasan, eksploitasi seseorang kepada orang lain dengan dalih apapun. Pemanusiaan manusia benar-benar diupayakan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dalam masyarakat terjadi kehidupan yang tenteram karena hubungan satu sama lain didasari adab yang tinggi. Yakni nilai keadilan benar-benar terwujud dan bisa dirasakan oleh setiap anggota masyarakat.
Ketiga: Persatuan Indonesia
Persatuan dalam bingkai NKRI harus menjadi sesuatu yang dicita-citakan oleh setiap penduduk. Dengan demikian, akan muncul sikap dan tindakan yang mengarah terwujudnya persatuan dalam setiap komunitas muali dari lingkup terkecil sampai lingkup yang luas (nasional). Untuk lebih bisa merasakan betapa perlunya persatuan ini, maka masing-masing anggota masyarakat harus menganggap bahwa Indonesia ini adalah rumah kita, tempat kita tinggal bersama dengan anggota keluarga yang lain.
Keempat; Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
Pancasila masih dikatakan sakti, kalau dalam kehidupan berbangsa dan bernegara masih mengedepankan sifat-sifat kerakyatan. Lebih jelasnya, segala sesuatu yang dituju dalam pembangunan itu adalah untuk kepentingan rakyat banyak. Bukan untuk kepentingan penguasa. Oleh karena itu penguasa/pemerintah harus memimpin secara bijaksana dan bermusyawarah dalam mengambil kebijakan yang sifatnya strategis.
Kelima; Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Disinilah letak kesaktian yang lebih terasa, jika rasa keadilan bisa terwujud dalam kehidupan sosial. Bukan pada masyarakat tertentu saja, semua lapisan masyarakat bisa merasakan adanya keadilan dalam kehidupan. Keadilan dalam ekonomi, hukum, layanan sosial, layanan kesehatan, layanan pendidikan, layanan informasi dan kesempatan yang sama dalam berusaha.

Nah, jika indikator-indikator tersebut belum nampak dalam kehidupan sehari-hari, maka kita perlu merenung lebih dalam lagi berkaitan dengan peringatan hari kesaktian Pancasila. Mengapa? jawabnya karena kita tidak ingin Pancasila yang begitu hebat itu ternyata keropos tidak berisi. Mari kita jaga Pancasila dasar negara kita ini untuk betul-betul kuat dan sakti!

Jumat, 12 Juli 2013

PARASIT EKONOMI

Oleh: Mukhaer Pakkanna
Ketua STIE Ahmad Dahlan Jakarta


Kendati dua lembaga pemeringkat internasional telah menyematkan gelar investment grade dengan rating BBB- oleh Fitch Rating dan gelar peringkat utang Indonesia dari Ba1 menjadi Baa3 dengan prediksi stabil oleh Moody’s Corporation, ada satu pertanyaan tersisa, yakni, siapkah Indonesia mengelola gelontoran dana investasi global jika benar-benar efek rating membanjiri invetasi di Tanah Air?
Memang, pengelolaan anggaran Negara baik yang berasal dari pemerintah, swasta, maupun pihak asing (utang dan investasi), selama ini dihambat keruwetan pola birokrasi dan perilaku budaya politik yang kurang transparan dan akuntabel. Konsekuensinya, berapapun realisasi anggaran yang dikelola Negara dan swasta kerap kali ketelingsut oleh pola dan perilaku itu. Banyaknya pungutan liar (pungli), seperti laporan utama Republika, Selasa, 14 Februari 2012 mengonfirmasi dan menegaskan perilaku itu.
Pada dekade 1980-an, Sumitro Djojohadikusumo melansir, kebocoran anggaran Negara mencapai 30% setiap tahunnya. Di sisi lain, riset CIDES pada akhir 1990-an juga menyampaikan, biaya produksi perusahaan hampir 30% tidak berkait langsung dengan ongkos produksi riil, tapi lebih banyak berkaitan pungli, yang menimbulkan high cost economy.
Bahkan, hingga detik ini pun, potensi kebocoran APBN terus menggelayut. Hasil audit BPK (2011) melansir, dalam kurun waktu tujuh tahun (2003-2010), jumlah APBN yang tidak jelas peruntukannya mencapai Rp103 triliun. Komposisi terbesar kebocoran terletak pada dana pengadaan barang dan jasa.  Indikatornya, terlihat pada penetapan harga perhitungan sendiri selalu lebih mahal 20-30 persen dari harga pasar. Bank Dunia pun pada 2008, melansir tingkat kebocoran anggaran pengadaan sekitar 10-50 persen.
Maka, berapa pun besaran dana baik bersumber dari hasil investasi asing, swasta, utang luar negeri, maupun sumber dana negara, menjadi penting dicermati di tengah  masih tingginya parasit (benalu) ekonomi nasional. Menjadi pertanyaan, sejauhmana efektifitas anggaran itu jika parasit masih bercokol kuat?
Parasit Ekonomi
Dalam ilmu tumbuhan, parasit dimaknakan sebagai jenis relasi simbiosis antara organisme dari spesies berbeda, yang menumpang makan dan mengorbankan tuan rumah.  Dalam terminologi Yunani, parasit berarti parasitos, “orang yang makan di meja lain”. Dalam konteks sosial, parasit sosial dimaknakan mengambil keuntungan dari interaksi antara anggota organisme sosial, yakni manusia, sistem sosial, kelembagaan, aturan, dan lainnya. Manusia sebagai bagian organisme sosial, kerap kali paling lihai memanfaatkan peluang, bahkan bisa saling membunuh di antara mereka. Parasit sosial berarti mematikan organisme lain (tuan rumah) demi keuntungan atau manfaat pribadi.
Maka, dalam konteks kegiatan ekonomi, parasit ekonomi  diartikan bukan sekadar bersifat strukural, tapi juga kultural.  Parasit ekonomi yang bersifat struktural diartikan, parasit yang dikonstruksi melalui produksi kebijakan oleh institusi yang memiliki kuasa dan uang, misalnya, pemerintah, pengusaha kakap, legislatif, pemburu rente, dan yudikatif.  Demi kepentingan pembiayaan politik misalnya, institusi kekuasaan ini memproduksi kebijakan ekonomi, yang justru bisa menciderai laju akselerasi ekonomi. Tidak mengherankan, jika banyak kebijakan yang diproduksi  justru meningkatkan high cost economy.
Di sisi yang lain, parasit ekonomi yang bersifat kultural, diartikan sebagai sikap mental (mindset) yang sudah mengkristal dalam perilaku masyarakat (habits), yang justru menghambat optimalisasi potensi ekonomi. Sikap  malas, kurang disiplin, kurang menghargai waktu, boros, dan produktivitas rendah, merupakan bagian parasit ekonomi yang sifatnya kultural. Konsekuensinya, entropi ekonomi menjadi rendah. Entropi ekonomi diartikan sebagai derajat ketidakteraturan dalam mengelola ekonomi yang disebabkan mindset masyarakat  yang kurang menghargai produktivitas dan kekuatan kolegialitas masyarakat. Semakin tinggi entropi ekonomi, semakin rendah laju percepatan, keadilan, dan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Mengenyahkan
Parasit ekonomi merupakan musuh utama dalam membangun daya saing ekonomi. Karena itu, ia harus segera dienyahkan. Melihat anatomi parasit ekonomi terpeta dalam parasit struktural dan kultural, setidaknya pada aspek struktural, yang perlu dilakukan, pertama, mengeyahkan inefisiensi birokrasi.  Pungli yang masih berseliweran dari hulu ke hilir menyebabkan pelaku usaha harus terbebani dengan tambahan biaya produksi. Ditambah lagi birokrasi perizinan usaha.
Jika Singapura dan Thailand membutuhkan waktu 3 hari untuk mengurus perizinan untuk membuka usaha baru, Indonesia justru 60 hari. Laporan Kegiatan Bisnis di Indonesia 2012 oleh International Finance Cooperation (IFC) dan World Bank, biaya rata-rata yang disyaratkan  dalam hal mendirikan usaha di 20 kota di Indonesia sebesar 22 persen dari pendapatan per kapita. Biaya notaris adalah yang terbesar. Nilainya bisa separuh dari total biaya.
Kedua, mengenyahkan gurita korupsi. Mengonfirmasi laporan akhir tahun PPATK (2011) bahwa selama tahun 2011 terkuak, dari jumlah total 175 laporan dugaan tindak pidana korupsi, sebanyak 50,3 persen dilakukan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Kemudian, dari 175 laporan dugaan tindak pidana korupsi itu, ada 42 kasus dengan jumlah nominal di bawah Rp 1 miliar per transaksi. Dan, 70 kasus dengan jumlah nominal Rp 1 miliar sampai Rp 2 miliar per transaksi, serta ada 33 kasus dengan jumlah nominal Rp2 miliar sampai Rp3 miliar per transaksi. Ini menandakan, serangan utama untuk mengenyahkan gurita korupsi, terletak pada aparat birokrasi pemerintahan, yang juga kerap “berselingkuh” dengan kuasa uang dan kuasa politik.
Ketiga,  pada aspek kultural, diperlukan pengenyahan entropi budaya (Ginanjar, 2012), yakni menekan derajat ketidakteraturan nilai-nilai yang semakin pragmatis, myopic, dan instant. Nilai-nilai seperti ini mendestruksi produktivitas, daya saing, dan sprit kolegialitas masyarakat. Masyarakat akhirnya cenderung nafsi-nafsi. Karena itu, diperlukan penanaman dan kritalisasi nilai-nilai religiusitas, yang tidak saja bersifat normatif, tapi diperlukan nilai-nilai yang kompatibel dan aplikabel dengan realitas. Maka, ruang pendidikan formal, informal, dan nonformal membutuhkan contoh dalam ucapan, laku, dan keteladanan.
Pada akhirnya, parasit ekonomi yang menghambat akselerasi kesejahteran dan keadilan ekonomi masyarakat, hanya bisa dipotong jika Indonesia memiliki strong leadership.

Dicopas dari:
http://mohammadwasil.dosen.narotama.ac.id/2013/05/03/parasit-ekonomi/#sthash.Sz9rbPPs.dpuf