Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Desember 2011

Kepuasan, Buah Kerja Keras Kita

     Alkisah, usai sholat subuh Sang Raja memanggil 3 rakyatnya untuk menghadap dan mendapat tugas mengumpulkan buah-buah dan dimasukkan dalam sebuah karung. Karung itu harus terisi penuh dan ketiganya diberi waktu sampai dengan Maghrib.
     Mendapati perintah raja seperti itu, ketiganya langsung meninggalkan istana untuk secepat mungkin menjalankan perintah raja. Orang pertama, menjalankan tugas tanpa tendensi apapun. Ia hanya ingin melaksanakan titah raja dengan sebaik-baiknya dan bermaksud menyenangkan hati raja. Ia pun  masuk dalam hutan untuk mencari buah-buahan yang enak dan segar. Meski terkadang harus melewati hadangan binatang buas, ia tetap berusaha semaksimal mungkin untuk mencari buah terbaik. Berbagai rintangan ia lalui, termasuk sekelompok monyet ganas yang suka menyerang manusia, sehingga tubuhnya terluka. Akhirnya ia berhasil mengumpulkan buah-buahan segar tersebut kedalam karungnya.
     Sementara orang kedua yang memiliki pemikiran serba instan mencari buah-buahan secara asal-asalan dan tidak pernah memikirkan apakah Sang Raja suka atau tidak. Dia hanya berpikir yang penting karung terisi penuh, yang berarti tugas bisa diselesaikan. Berdasar pikiran tersebut orang kedua ini dengan cepat bisa menyelesaikan tugasnya, meski buah masih terlalu muda dan belum matang ia petik dan dimasukkan dalam karung. Tak butuh waktu lama orang kedua ini bisa mengerjakan tugasnya. Sedangkan, orang yang ketiga mempunyai pikiran licik, dia mengisi separuh karungnya dengan rumput dan tanah. Sedangkan setengahnya diisi dengan buah-buahan yang busuk dan sisanya masih terlalu hijau atau belum layak dimakan. Dalam sekejap tentunya dia bisa menyelesaikan pekerjaan itu.
     Batas waktu yang diberikan untuk ketiganya pun habis. Sehabis maghrib ketiganya menghadap Sang Raja, dan melaporkan hasil kerja kerasnya sepanjang hari. Raja bangga dengan ketiga rakyatnya dan menyuruh pegawainya untuk segera memberikan hadiah berupa menginap 3 hari 3 malam dalam istana yang megah. Praktis, ketiga rakyat itu menyambutnya dengan suka cita. Namun sebelum mereka melangkah kedalam 3 buah kamar mewah yang sudah disediakan, Sang Raja menyampaikan bahwa sebelum dan setelah jamuan makan selama 3 hari itu,  ketiga rakyat tersebut harus memakan apa yang ada didalam karung masing-masing.
     Begitu mendengar penjelasan rajanya, terbayang sudah apa yang akan terjadi. Orang pertama tentunya bahagia, karena dia membawa buah-buahan segar. Sedangkan orang kedua pucat, mengingat dia membawa buah-buahan yang pahit dan masih mentah, sementara orang ketiga langsung pingsan karena sock. Dia tidak bisa membayangkan harus makan tanah dan rumput.
     Kisah ini hanyalah cerita fiktif. Namun dari cerita ini diharapkan ada pelajaran berharga yang bisa kita ambil. Bahwa kepuasan itu adalah sesuatu yang harus kita perjuangkan dengan maksimal, dengan kejujuran dan keikhlasan dalam mengerjakannya. Sessungguhnya kepuasan itu adalah buah dari kerja keras kita yang diberikan oleh Allah sebagai hadiah (baca: pahala) untuk orang yang mau bersungguh-sungguh dalam berkarya.

sumber: Kospin Jasa dengan redaksi yang berbeda. oleh Mukhlis

Minggu, 02 Oktober 2011

Dreaming of a better life

While many post-Idul Fitri returnees are residents of Jakarta, a large number of new arrivals were hitching a ride to the metropolis in the hope of finding a better life.

Two of those were Ela and Santi, natives of the small town of Pekalongan in Central Java, who traveled for the first time to Jakarta to look for a decent job.

“I want to try my luck in Jakarta,” 17-year-old Ela told The Jakarta Post soon after alighting from her intercity bus in Kampung Rambutan terminal in South Jakarta on Monday.

She was accompanied by four other teenagers — all of whom were girls — on her trip to the city.

“Two of them are my cousins while the other two are friends from my home village,” she said.

She added that all of her companions had found work as domestic helpers in Jakarta and it was their success stories that persuaded her to come to Jakarta. Even with its myriad problems, Jakarta remains the primary destination for working-class people from all over the country looking to get a better life.

This year, the Jakarta administration expects more than 50,000 new arrivals to flood Jakarta. Last year, 60,000 newcomers arrived in the post-Idul Fitri influx.

Jakarta has seen a decreasing number of newcomers each year over the past four years. Agency data shows that 109,617 newcomers arrived in 2007, 88,473 in 2008 and 69,554 in 2009.

Most of these arrivals were lured by the hope of success in Jakarta and sharing their wealth with their poverty-stricken family back home. Such was Santi’s reason for coming.

“I want to help my parents by working [in Jakarta] and sending some of my income back home,” the 18-year-old native of Cianjur, West Java, told the Post.

In her company were two older cousins, who introduced themselves as Nur and Nunun.

Nunun said that she and Nur were both housemaids working in Pecenongan, Central Jakarta.

“My employer told me to bring someone from my hometown, because she needs an extra hand at her house,” she said.

Santi, who just graduated from a junior high school last year, said her cousins had asked her to come with them to Jakarta many times over the years.

At first, she felt intimidated by the idea of working in a big city like Jakarta, but relented only after being reassured by her cousins. “Nunun often told me it doesn’t matter what my skills are. I can always find work in Jakarta,” she added.

Taken from The Jakarta Post:06/09/2011